Belajar Gitar, Kunci Gitar, Melodi Gitar paling lengkap ada di sini

Cerita Pengalaman Bermain Gitar dari Awal

Cerita Pengalaman Bermain Gitar dari Awal


Cerita pengalaman bermain gitar dari awal ini adalah kisah nyata author mulai dari pertama kali berkenalan dengan gitar sampai saat ini. Belajar dalam kesederhanaan lingkungan pedesaan dengan segala keterbatasan tapi akhirnya bisa sampai jadi sekarang ini bisa menulis cerita di sini.

Aku sebenarnya tahu tentang bentuk fisik gitar itu sudah lama tetapi aku mulai benar-benar belajar memainkan gitar ketika kelas 3 SMP. Sebelum itu aku tak ada minat sama sekali karena memang tidak ada motivasi atau sesuatu yang mendorong dan mendukung. Mungkin juga karena tidak pernah tahu cara mudah bermain gitar seperti sekarang yan lebih mudah belajar dari internet.

Semua berawal dari perkataan salah seorang temanku yang membandingkanku dengan teman yang lain yang sama-sama belajar gitar. Kata-katanya seperti, "Masa' kau kalah sama dia main gitar?" Kontan saja amarah dalam diriku bergejolak, membuatku tidak terima dan berjanji pada akan mengalahkan mereka. 

Lantas aku meminjam gitar temanku untukku belajar. Aku bawa ke rumah dalam hati aku ingin punya dan gitar yang kupinjam itu rasanya cocok. 

Membeli Gitar


Karena tidak mengerti bagaimana membeli gitar akustik yang baru jadi aku berniat membeli gitar temanku tersebut. Agar temanku mau menjual gitarnya, aku membujuk ibuku yang melakukannya karena aku tahu kalau aku sendiri yang bicara dengan temanku itu pasti tidak akan diberi. 

Awalnya ibuku tidak mau tetapi karena aku terus ngotot pengen akhirnya dia mau juga dengan syarat membantu membersihkan kebun karet. Walau sebenarnya aku tahu bahwa pekerjaan itu berat tetapi karena hati dan pikiranku ingin bisa bermain gitar dan mengalahkan temanku tadi, aku pun menyanggupinya.

 belajar gitar, pengalaman bermain gitar, lagu mudah, sharing, otodidak gitar,


Awal-awal belajar gitar



Jadilah semenjak saat itu aku berlatih dan berlatih.

Aku belajar kunci-kunci dasar gitar dari buku kord yang waktu itu aku pinjam dari perpustakaan sekolah, beberapa juga aku ketahui dengan mengamati teman. 

Lagu yang kupelajari adalah lagu-lagu gereja yang kupikir mudah. Not lagu-lagu gereja  itu membantuku belajar progresi kord. Waktu itu aku cuma tahu kalau not 1, 3, 5 itu kita tetap bermain di chord dasar, sedangkan not 2 dan 7 itu harus memainkan kord rendah sedangkan not 4 dan 6 untuk kord tinggi. Jadi misal nada dasarnya C maka kord rendah G mayor dan kord tingginya Fmayor. 

Selain belajar lagu gereja, aku sering belajar dari lagu yang mudah, seperti lagu anak-anak dengan variasi nada dasar. 

Ada suatu kejadian dimana aku mulai mau belajar menyetem gitar aku putar sedikit senar nomor 3. Karena waktu itu tidak ada alat bantu untuk menyetem gitar, seperti tuner atau aplikasi android (tahun 2003 jangankan android, hp aja belum ada).

Alhasil 3 hari aku bermain gitar dengan suara sumbang, ingin menangis rasanya karena tidak berhasil mengembalikannya ke suara yang benar. 

Ada keinginan untuk mengembalikan gitar itu. Pada hari ketiga ada sesuatu dalam diriku yang mengatakan bahwa aku pasti bisa, dan dengan modal keyakinan itu aku akhirnya berhasil dan sejak saat itu aku tak pernah kesulitan untuk menyetem gitar.

Belajar ini aku lakukan diam-diam, pikirku jangan sampai ada orang yang melihatku supaya nanti aku bisa memberi kejutan kepada mereka. 




Latihan terus menerus 


      
Hari-hari demi hari terus berlalu. 

Sekolah, pulang, makan dan berlatih sambil menghibur diri. Sampai pada suatu hari, mungkin karena bapakku bosan mendengar dan melihatku main gitar terus menerus, beliau berkata, “ Besok sepertinya kau tidak akan hidup kalau tidak bermain gitar.” 

Masuk akal juga perkataannya, karena mulai pertama aku beli gitar aku malas melakukan hal-hal lain. Fokusku waktu itu adalah aku harus bisa mengalahkan temanku dan menjadi gitaris paling hebat di kampung. ^_^

Sedikit catatan, sebenarnya temanku itu juga cuma tahu 2 atau 3 lagu saja tetapi aku rasanya seperti terbakar. Maklum ketika masih SMP mudah sekali terpancing emosi. Tapi untung ini bisa dibilang emosi yang membawa suatu yang positif.

Aku adalah anak yang pemalu, saking malunya pada waktu itu aku bermain gitar hampir tak kedengaran kalau bermain dihadapan orang lain. Aku selain malu, aku merasa sayang juga dengan gitar takut  cepat rusak kalau dibuat/ dipetik keras-keras seperti itu. 

Sedangkan teman-teman lain dalam bermain seakan ingin memutuskan senar gitar secepatnya. Mungkin mereka berpikir dengan bermain seperti itu orang akan tahu dan menganggap mereka hebat.


Inspirasi dari Slash



Inspirasi yang membuatku terus bermain gitar adalah melihat Slash bermain gitar sambil merokok atau sambil lari-lari. Aku melihatnya di video konser GnR ( belakang aku baru tahu kalau itu Live in Tokyo ). 

Gaya bermain gitar sambil merokok itu yang paling berpengaruh kendati aku bukan seorang perokok dan aku pernah mencoba menirunya, yang ada kurasa bukan menjadi keren tapi menjadi sesak dan jadi repot. 

Aksi panggung Slash seperti itu menjadi inspirasiku bergerak ke sana kemari, loncat-loncat pokoknya keren.


Mulai berkembang setelah masuk seminari



Setelah tamat SMP aku melanjutkan sekolah ke seminari menengah. Di sini aku bertemu banyak teman-teman yang bisa bermain gitar, piano, drum, dll. Di sini aku membuat band pertamaku namanya “Leski Band”. 

Sebuah mimpiku terwujud, ketika di SMP aku ingin punya band.Mimpiku waktu SMP adalah bisa memegang gitar elektrik dan punya band. Pertama kali ketika aku menenteng gitar listrik aku masih ingat dengan jelas bagaimana kakak kelas itu senyam senyum, mungkin mereka mengejek karena badanku paling kecil. 

Ketika masuk SMA tinggi badanku cuma 130cm jadi mungkin lebih baik di sebut “ditelan” gitar daripada seorang pemain gitar. 

 belajar gitar, pengalaman bermain gitar, lagu mudah, sharing, otodidak gitar,

Aku perform pertama kalinya di acara ulang tahun seminari salah satu yang aku tidak bisa lupa adalah saat gladi bersih. Saat itu kami membawakan lagu “Air dan Api” ( di populerkan oleh group band NAIF). Kami mengaransemen lagu itu dengan ditambah modulasi. Pas waktu modulasi aku di beri microphone oleh vokalisnya karena itu pertama kali aku dilihat dan di saksikan orang banyak aku grogi dan suaraku beda dengan musiknya. 

Kontan aja aku jadi tertawaan seluruh orang, menyedihkannya lagi rektor seminarinya juga menonton. Aku janji tidak akan mau di suruh nyanyi pas hari H nya. Aksiku yang loncat-loncat dan jalan-jalan kesana kemari itu membuat teman-temanku bilang aku ini hebat padahal tidak sama sekali. Aku beri sebuah bocoran, pada waktu itu aku punya keyakinan biarkan orang melihat aksi panggungku pasti mereka tidak akan memperhatikan permainanku. 

Jadi gaya dapat menutupi kekurangan apalagi untuk seorang yang baru beberapa bulan belajar gitar dibanding mereka yang udah sekian tahun bermain dan berlatih.

Q : "Berarti kalau banyak gaya, berarti gak bisa main hebat donk?"
A : "Bisa jadi !" (just kidding bro)

Di seminari ini aku banyak belajar dari kakak kelas terutama yang bernama Cecep. Dia banyak mengajariku. Waktu itu kugunakan kesempatan yang ada untuk belajar dan berlatih gitar. 

Untung Cecep orangnya  baik. Sebenarnya aku pesimis dengan diri sendiri. Aku pernah berkata pada Cecep mungkin kalau dia lulus aku gak ada yang bilang dan aku tidak bisa mencari solo gitar sendiri. Cecep waktu aku masuk sudah kelas XII. 

Solo gitar waktu itu yang kupelajari adalah lagu-lagu Peterpan yang pada saat itu lagi booming. 


Kegilaanku mulai muncul adalah ketika aku mengenal banyak buku chord gitar. Waktu yang seharusnya untuk belajar aku gunakan untuk menulis dan mencatat chord dan lirik lagu. Walau sebenarnya bisa di fotocopy entah mengapa aku lebih suka mencatatnya. 

Di sini aku juga sempat ingin belajar piano tetapi di tegur sama pembinanya, katanya kalau sudah gitar ya gitar saja. Waktu itu aku belum memahami sepenuhnya maksud dari perkataan tersebut. Dalam hati aku hanya menggerutu orang mau belajar kok malah dilarang. 

Sekarang aku baru memahami bahwa sesuatu itu perlu di dalami bahkan ketika sudah tahu banyak tentang gitar aku masih dihadapkan di banyak pilihan lagi memilih musik yang seperti apa. 

Mungkin karena sifatku yang suka mencoba sana sini dan tidak bisa fokus hingga sampai saat ini aku tidak mahir dalam satu jenis musik apapun  karena pada dasarnya aku suka semua. Klassik, rock, metal bahkan dangdut sekalipun.


Berkembang di luar seminari



Tidak sampai setahun aku di seminari, aku keluar dan pindah sekolah. Kali ini sebenarnya tak jauh berbeda karena aku masuk di asrama. Kayaknya ini salah satu manfaat tinggal di asrama. Di sini ternyata ada juga adek kelas yang hebat bermain gitar. Ya, setidaknya saat itu bagiku hebat karena dia lebih hebat dariku. 

Aku sering tukar ilmu dengan dia. Apalagi kalau lagu dangdut dia hebat sekali, aku hanya menikmati saja kalau sudah mereka dangdutan. 

Di SMA baru ini aku mulai diperhatikan ketika aku ikut tampil di acara perpisahan kelas 3. Aku waktu itu secara mendadak di suruh ikut salah satu band mereka pas hari H. 

Chord gitarnya aja diberi tahu beberapa menit sebelum perform. Super mendadak, super cepat. Pas perform aku tidak memperhatikan apakah aku memainkan dengan benar yang penting tetap loncat sana sini. Waktu itu kalau tidak salah membawakan lagu “Bebas Hambatan” di populerkan oleh Boomerang. 

Lagi-lagi aksi membuat orang tidak memperhatikan permainan ( aku berpikir telah menipu mereka karena pasti mereka berpikir kalau aku hebat. :D ).

Di SMA baru ini aku membawa satu yang aku pelajari di seminari yaitu lagu-lagu taize. Sejenis lagu renungan (dengan musik instrumental dengan sedikit syair) yang mungkin dapat membuat sebagian orang menitikkan air mata. Aku tidak tahu mungkin lagu-lagu inilah yang menambah arasemenku sekarang terasa begitu dalam (aku pikir begitu).

Aku yang mengusulkan kepada suster kepala sekolah untuk membawakan lagu-lagu ini waktu retret. Usulku diterima dan kami mulai latihan, karena mungkin hanya aku dan suster yang lumayan bisa jadi aku yang melatih mereka walau hanya dengan satu suara (kalau di seminari biasanya dibawakan dengan 4 suara). 

Retret pertama menurutku tidak begitu sukses karena waktu itu aku salah ambil nada sehingga suaraku tidak sampai, lagi-lagi jadi bahan tertawaan. Di tahun kedua semua jauh lebih baik karena sudah banyak yang tahu, yang memainkan gitar hanya aku yang tahu. Yang lain mungkin karena musiknya berbau agak klasik jadi tidak mau ikut ngulik.


Menciptakan lagu sendiri




Di kelas 3 adalah tahun dimana aku banyak menciptakan lagu-lagu. Waktu itu lagu-laguku pop semua, hanya ada 2 atau 3 lagu yang lumayan keras. Mungkin kalau di total ada 30an lagu, 5 lagu daerah, 2 lagu rohani sisanya lagu pop. 1 lagu rohaniku kabarnya sampai tahun 2010 yang lalu masih dibawakan adik kelas waktu retret. 

Aku tidak tahu bagaimana versi mereka saat ini. Melihat banyaknya jumlah lagu yang aku  buat inilah yang mendorongku untuk berangkat kuliah ke jogja. Jujur saja niatku bukan untuk kuliahnya karena aku di terima di jurusan pendidikan matematika (resiko belajarnya pasti susah) tetapi aku hanya punya 1 tujuan yaitu punya band dan rekaman. Waktu itu aku yakin sekali bahwa lagu-lagu akan diterima banyak orang. 

Sebenarnya di masa-masa ini tidak ada niat menjadi seorang gitaris dengan sejuta teknik. Gitaris yang kutahu diluar negeri cuma Slash. Di dalam negeri lumayan banyak Ian antono, Eet, John Paul Ivan, Aziz ms, dll. Waktu SMA ini juga aku sama sekali tidak tahu banyak teknik-teknik gitar bahkan bending sekalipun. Aku juga menciptakan 1 solo gitar waktu itu semacam ngejam sama adikku. 

Lalu aku rekam pakai hp, karena solo yang tak di konsep bermain asal bunyi sesuai chord gitar saja. Butuh sehari untuk mengikuti solo yang kubuat tersebut.

Sebelum aku berangkat aku menjual gitar pertamaku kepada sepupuku. Gitar pertama itu awalnya aku tinggal di rumah, sedangkan waktu di SMA aku membeli gitar sendiri dengan uang tabungan sendiri orang tuaku tidak akan membelikan barang semacam itu diluar keperluan sekolah. 

Belakangan gitar uang kubeli itu hancur karena kelalaian adikku. Dia ingin punya gitarku tapi malas merawat dan berlatih.


Pengalaman di Jogja



Pertama kali aku di jogja, aku sering diketawain sama teman-temanku karena aku bermain lagu-lagu pop seperti Kangen Band, Ungu, dll ( pokoknya pop ). Kalian juga pasti ketawakan kalau aku bilang KANGEN BAND. >.<

Aku masih ingat ketika pertama datang sering ngejam sama temanku Olex sampai jam 1 malam. Dari dia aku banyak belajar lagu-lagu seperti November Rain, Blink, dll. Untuk group band Blink termasuk baru bagiku, waktu di Kalimantan tahunya cuma Guns n Roses, Bon Jovi, Scorpion dan Metallicca ( aku cuma tahu namanya tapi tidak pernah mendengar satu lagunya pun ). 

Untuk metal, band yang aku tahu pertama kali adalah Avenged Sevenfold lagu Dear God. Berbahagialah Anda yang sudah tahu A7x sejak lama sementara aku baru tahu sejak kuliah. 

Ini video tutorial gitar yang pertama aku lihat kali. Video gitar yang diampu langsung oleh sang dewa gitar, Joe Satriani.






Sejak dikenalkan oleh temanku tentang situs youtube aku sering melihat banyak sekali lesson gitar. Tetapi yang membuatku gerah adalah hampir sebagian lessons itu di praktekkan dengan gitar elektrik sementara aku hanya punya gitar akustik string murah. 

Dalam hati aku berjanji bahwa apabila aku punya gitar elektrik aku akan mempelajari teknik yang susah seperti teknik sweeppicking. 

Baca : Belajar dasar teknik Sweep Picking

Untuk band metal sendiri aku mulai pertama tahu selain A7x adalah Lamb of God (LoG). Aku tahunya ketika membuka alamat friendsternya Prisa ternyata dia menyukai LoG. Penasaran seperti apa lagunya, aku cari lagu-lagu mereka di youtube tapi tidak tahu bagaimana cara mendownloadnya.

Baca : Cara mendownload video youtube terbaru

Belakangan aku dapat lagu-lagu Lamb of God dari temanku albumnya Sacrament sama Killadelphia. 

Group band selanjutnya adalah Trivium. 

Awal aku suka Trivium ketika aku menyimak lagu-lagu mereka keras di awal tetapi ada bagian suara clean yang menurutku melodius. Lalu kemudian menyusul band-band lain. Yang  penting bagiku teriak gak jelas, semakin membuat kepalaku pusing semakin seru rasanya. Inilah mungkin salah satu yang membuatku bertahan di Jogja selama 2 tahun tanpa pernah pulang ke Kalimantan.

Tahun pertama di jogja menurutku adalah tahun yang berat dalam aku belajar gitar. Aku menghabiskan 1 sampai 2 jam di warnet hanya untuk melihat dan mencari video lessons gitar kemudian mengingatnya di kepalaku lalu mempraktekkannya di kost karena aku tidak punya komputer jadi otakku harus bekerja keras untuk mengingat semuanya. 

Bila harus terlupakan maka besoknya dilihat lagi. Benar-benar sesuatu yang penuh perjuangan dan yang penting juga harus kehilangan banyak waktu dan juga uang tentunya. 

Beruntung pada akhir tahun pertama aku sedikit bisa membaca tab gitar jadi aku bisa ngeprint tab-tab yang aku pelajari. 

Di tahun kedua ketika aku membeli komputer aku mengisi dengan banyak gitar pro. Membaca TAB guitar pro jauh lebih mudah karena bisa langsung di dengarkan nadanya.

Tapi masalahnya masih sama rata-rata lagu dimainkan dengan gitar elektrik.  Kadang-kadang muncul rasa jengkel dengan situasi ini. 

Gitar elektrik pertamaku ku beli tanggal 31 Agustus 2009 dengan harga 260 ribu. Gitarnya teman, temanku. Katanya jarang dimainkan, pas ku beli senarnya juga putus satu. Aku beli dengan uang tabunganku sendiri. Prinsipku apa yang ingin aku capai adalah hasil jerih payah dan kerja kerasku sendiri.

belajar gitar, pengalaman bermain gitar, lagu mudah, sharing, otodidak gitar,


Jadilah berarti di tahun kedua aku mulai ngulik lagu-lagu metal seperti Trivium. Pertama GnR karena aku kenal udah sejak SMP tetapi malas juga karena Slash ternyata stemannya turun setengah. Setelah membeli gitar, aku bersama bandku sempat masuk studio rekaman tanggal 24 Oktober 2009. 

Kebetulan ini lagu buatanku. Sampai saat ini band tidak ada kelanjutannya mixing dan mastering lagu tersebut Februari 2010. 

Dalam lagu ini aku memasukan teknik sweeppicking arpeggio yang baru aku pelajari 1 bulan sebelumnya. Masih sangat-sangat payah. Waktu itu judul lagu tersebut “ Mars Rock”.

Pada waktu PPKM (sejenis kegiatan kemahasiswaan di kampusku) aku bertemu seorang teman. 

Aku bertanya padanya sebenarnya apakah dasar semua musik itu ? 

Dia menjelaskan bahwa dasar semua musik itu adalah musik klasik. Awalnya aku tak bisa memahami dalam hatiku berkata aku sudah bisa maen musik rock kenapa harus repot-repot belajar musik klasik (tapi sebenarnya karena susah juga kalau dipikir-pikir ). 

Aku belum begitu tertarik sampai ketika aku ikut jadi pengiring sebuah koor di kampus. Aku merasa menyentuh gitar nilon untuk pertama kalinya, gagangnya besar enak untuk jari-jariku yang kecil.

Lalu aku mulai mencari tahu di internet tentang musik-musik klasik seperti Mozart, Beethoveen, J.S Bach, Paganini, dll. Dari semua nama itu yang paling menarikku adalah J.S.Bach karena di guitar pro banyak versi gitar nylon jadi memainkannya hanya perlu memadukan harmoni dalam satu gitar. 

Kalau Mozart atau beethoveen biasanya dibagi atas bagian-bagian tersendiri. Lagu klasik pertama yang ku pelajari adalah Minuet in G.

Suatu ketika, aku tersentak ketika melihat Sung Hua Jung memainkan Air on the G string. Aku merasa dikalahkan oleh anak kecil, dengan tekad bulat aku pun ngulik lagu Air on the G string supaya aku tidak dikalahkan anak kecil pikirku

Karena gitar nilon itu hanya aku pinjam, ada waktunya untuk di kembalikan. Aku sempat membuat 3 arasemen klassik. Ya sebagai pemula aku pikir lumayan judulnya "One second for me One second for you, Bring me in your heart, dan You smile." 

Berarti akhir tahun 2009 lalu aku belajar lagu ngulik lagu-lagu klassik. 

Setelah gitar itu dikembalikan, aku kembali dengan musik metal bersama dengan bandku Requieschat

Perform pertama kali kami membawakan lagu Cradle of Filth (the foetus of a new day kicking), Trivium ( Dying in Your Arms), Killed by Butterfly ( Life ). Selama berada di band ini kami baru 2 kali perform. Terakhir kami membawakan lagu aransemenku Eat’s One Word dan Eennie Meenie Cover metal version (dipopulerkan Justin Bieber)

Waktu itu, ketika mengaransemen lagu metal (karena aku baru) kata temanku sang vokalis kurang breakdownnya. Menurutku, wajar kalau aku belum banyak tahu soalnya aku baru 2 tahun ini tahu dan dengar yang namanya metal dan metalcore. Jadi aku masih payah.


Prinsipku Bermain Gitar



belajar gitar, pengalaman bermain gitar, lagu mudah, sharing, otodidak gitar,

Semenjak aku beli komputer aku sering melihat permainan gitar dari banyak gitaris. Tergantung mood sedang pengen yang seperti apa. Tetapi dari semua yang aku lihat, semua secara garis besar yang paling aku ingin tahu adalah teknik-teknik andalan mereka. 

Sebut saja Paul Gilbert ( alternate picking + string skipping ) atau Joe Satriani ( Legato + Wharmy Bar ), dll. Yang penting bagiku adalah teknik mereka bukan “Lagunya”

Pernah dalam mata kuliah matematikaku, dosenku menjelaskan kenapa orang Indonesia selalu juara dalam olimpiade matematika SMA tetapi setelah kuliah kalah sama negara-negara lain, Amerika misalnya. 

Menurut beliau, itu dikarenakan kita menghafal konsep bukan memahami konsep. Hal inilah yang sedang aku kembangkan dalam diriku. Aku mencari ilmu-ilmu mereka dan mencoba mengembangkan dengan gaya dan caraku sendiri. Mungkin terlihat payah sih bagi sebagian orang. 

Mungkin ada teman di luar sana yang bilang, “Koq kamu idolanya Paul Gilbert tapi tidak ada bisa memainkan salah satu dari lagunya?” 

Aku sebenarnya bingung juga dengan metode yang aku gunakan ini. Tetapi biarlah ada argumen seperti itu yang penting aku bangga dengan lagu dan aransemenku sendiri. 

Tiap aku tahu ada teknik baru bagiku, aku akan mencoba membuat sebuah improvisasi sendiri. Penting bagiku adalah untuk mencari feeling di setiap nadanya.

Baca : 11 Cara melatih feeling dalam bermain gitar

Puncak kegilaanku mungkin terjadi di semester 4 lalu dimana aku kuliah dengan 13 sks  dan berlatih gitar 5 sampai 6 jam sehari

Aku ingin memaksimalkan segalanya. Dalam rentang itu aku membaginya dalam beberapa bagian mungkin pagi dan sore maksimal 2 jam sedangkan malamnya maksimal 2 jam. 

Di semester 3 aku punya kebiasaan lain, biasa aku latihan di atas jam 12 malam ketika semua sudah terlelap. Situasi seperti ini sangat membantu untukku mencari nada-nada yang indah. 

Lebih bagus ketika tidak ada cahaya sama sekali aku benar-benar merasa sangat fokus. Sebab terkadang apa yang kita lihat tidak sejalan dengan pikiran/ perasaaan kita

Apalagi ketika bermain salah satu lagu klassik semua ku biarkan mengalir semua bertumpu di jari. Ada baiknya menonaktifkan indra pengelihatan. Mungkin ada yang bilang melihat aja susah apalagi tidak. 

Mungkin perlu digaris bawahi apakah ketika Anda melihat, pikiran Anda sudah anda fokuskan ke sana? Bermain gitar sebenarnya bukan tentang yang anda lihat menurutku segala musik itu sejatinya hanya perlu di dengar dan dihayati

Supaya anda memahami maksudku sebagai contoh ketika anda mendengarkan salah satu solo gitar, apakah Anda selalu melihat orang yang memainkannya ?

Jadi modal terbesar kita sebagai gitaris adalah telinga maka jaga dan pergunakan telinga dengan baik.


Idola baru



Di pertengahan tahun 2010 aku mengenal seorang gitaris bernama Jason Becker. Permainannya membuat pikiranku terbuka ternyata kita tidak hanya bermain lagu rock tetapi juga klasik. Aku melihat video bagaimana dia memainkan Bouree in Em (J.S Bach) dari atas dan pendeskripsian tentang dia yang menyatakan bahwa dia dapat dengan mudah membuat aransmen klasik. 

Kendati jauh sebelumnya aku sudah mengenal Yngwie tetapi permainan Jason lebih menyentuhku apalagi di lagu “Altitudes”. Teknik yang paling aku suka dari Jason adalah “Triad Arpeggios” teknik ini biasa banyak di gunakan dalam lagu-lagu klassik. 

Contoh Triad arpeggio dapat di dengar di lagu Serrana. Memang benar kalau mendengarkan dan membandingkan aransemen Jason lebih rumit dari Yngwie. Tetapi bagaimana pun keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. 

Baca : Belajar sweepicking dari 2 senar sampai 6 senar

Semangat dari Jason sendiri, itulah yang mengalir dalam diriku setiap aku sedang diam putus asa dalam menemukan sebuah ide dalam membuat lagu, ada pikiran dalam kepalaku yang seolah berkata bahwa Jason yang lumpuh saja bisa berkarya. 

Untuk itulah kenapa aku akhirnya membuat lagu dengan aplikasi gitar pro berjudul “Speaking Eyes ( song for Jason Becker ).” 

Selain itu saya pernah ikut kompetisi gitar online dengan mendedikasikan solo tersebut untuk Jason Becker









Aku dedikasi untuk orang yang terus bisa membuat aku berkarya. Ini aku pikir lagu instrument terbaik yang aku buat sampai saat ini tetapi aku berjanji akan membuat yang tidak jauh lebih baik dari ini. 

Belajar membuat lagu di guitar pro pun mulai aku lakukan semenjak tanggal 14 januari 2010 kemarin. Ini membawa perubahan besar dalam musikku. Selama ini aku tidak punya kawan ngejam lagi sekarang aku tidak hanya menjadikan guitar pro sebagai teman ngejamku tetapi juga dapat langsung menuliskan bait-bait nada di dalamnya. 

Aku menulisnya sangat hati-hati bahkan tiap solo gitar aku buat per bar jadi benar-benar tidak sembarangan seperti yang selama ini aku lakukan. Aku tidak berpikir apakah bagus di dengar orang lain tetapi itu benar-benar menyentuh diriku. Untuk apa aku membuat orang tersentuh sementara sang pembuat hanya membuat asal-asalan saja.

Baca : Belajar mengaransemen lagu menggunakan guitar pro

Jadi mungkin kesimpulannya aku mulai belajar banyak teknik semenjak aku punya komputer pertengahan 2009 silam.  

Mengenai teknik-teknik gitarku biarpun aku lumayan tahu banyak tangga nada tetapi aku hanya senang menggunakan tangga nada mayor minor untuk saat ini. 

Aku juga suka dengan suara musik-musik etnik. Entah jawa ataupun Kalimantan. Beberapa waktu lalu aku menemukan bahwa ada kedekatan antara lick-lick blackmetal dengan musik etnis jawa. Itu aku dapat setelah berekplorasi dengan lagu koor yang kebetulan menggunakan nuansa jawa.




Kembali ke musik klasik, ternyata itu sangat bermanfaat bagiku untuk menemukan soul dari setiap lagu yang kubuat. Sebenarnya aku lebih mengandalkan feeling, mungkin kebanyakan orang membuat solo gitar dengan terlebih dahulu menggunakan pengetahuannya tentang scale yang di sesuaikan dengan accord, aku menggunakan cara sebaliknya menemukan nada-nada terlebih dahulu yang menyerupai scale kemudian aku mencari bentuk scale apakah yang aku gunakan tadi

Itulah juga kenapa terkadang aku tak bisa mengulang kembali solo yang telah aku buat sebelumnya. Khusus di bagian solo gitar tiap penampilan selalu aku improvisasi sesuai mood dan yang pasti dengan feeling tentunya. 

Kini setelah dulu aku kesusahan menyetem gitar, sekarang hanya perlu mendengarkan satu nada semuanya bisa di tentukan bahkan tanpa menekan sebuah chord atau fret sekalipun. Ini bukan untuk menyombongkan diri tetapi mungkin karena segalanya terasa sudah menyatu. 

Yang sekarang sedang ku asah adalah belajar mendengarkan dan menebak chord gitar tanpa menyentuhnya. :D

Mimpi terbesar


Mimpi terbesarku saat ini adalah membuat sebuah musik orchestra. Aku belum dapat inti sari/konsep dasar yang jelas. Ini belum genap setahun aku belajar dan berlatih dengan musik-musik klasik mungkin suatu saat mimpi itu dapat aku wujudkan. Sampai saat ini aku sama sekali buta dengan yang namanya not balok ( aku menyebutkan “Kecambah Hitam”).

Aku tidak pandai untuk mengajari orang bermain gitar. Aku hanya dapat berbagi ilmu lewat blog ini. Itu pun sebagian kalau aku tidak tahu, aku cari dulu sumber-sumber yang relevan di internet.

Selain itu, banyak orang berasumsi kalau guru itu adalah orang yang serba tahu padahal kenyataannya tidak. Oleh karena itu, saya rasa lebih baik kita saling sharing ilmu. 

Pertanyaan di blog ini membuat kita berkembang bersama. Salah satu faktornya adalah karena aku belajar secara otodidak jadi semua berdasarkan pemahamanku sendiri bukan definisi secara umum. 

Baca : Sharing ilmu gitar ala gitaris otodidak

Aku salut dengan anak muda sekarang ini, walaupun mereka masih muda tetapi sudah hebat. Contohnya anak-anak SMA yang sudah bisa membawakan lagu Canon Rock atau lagu-lagu Joe Satriani. Jika dibandingkan dengan mereka di masa SMA dulu sangat jauh sekali.

Aku yakin kita bisa menciptakan karya-karya yang hebat. 


Ini ceritaku, mana ceritamu?



Salam Slashkiss  !!!

Back To Top type='text/javascript'/>